Senin, 06 Februari 2017

Review Umum Penyuluhan Penggunaan Helm SNI di SMK


Pada hari Jumat, tanggal 11 November 2016, tim penyuluhan dari Taruna MKTJ mendatangi kampus SMK Muhammadiyah Kramat yang berada di Jalan Garuda, Desa Kemantran, Kabupaten Tegal pada saat kegiatan ekstrakulikuler Hizbul Wathan akan dilaksanakan. Maksud kedatangan tersebut adalah untuk memberikan penyuluhan kepada para siswa yang hadir pada kegiatan tersebut tentang peraturan penggunaan helm SNI bagi para pengguna sepeda motor. Kegiatan penyuluhan tersebut merupakan kedatangan yang kedua kalinya setelah sebelumnya pada kedatangan yang pertama melakukan survei pendahuluan dalam rangka mengetahui kondisi di sekitar dan di dalam lingkungan sekolah, khususnya perilaku para siswa SMK Muhammadiyah dalam menggunakan sepeda motor. Hasil dari survei tersebut menunjukkan bahwa para siswa masih kurang kesadaran dalam menggunakan helm SNI pada saat menghendaki sepeda motor.
Sebelum melaksanakan kegiatan, tim penyuluh telah mempersiapkan peralatan dan perlengkapan yang akan dibutuhkan dalam kegiatan penyuluhan tersebut. Peralatan yang digunakan antara lain: laptop dan LCD proyektor. Sedangkan perlengkapan yang dibawa adalah hadiah-hadiah berupa alat-alat tulis yang akan diberikan kepada para siswa sebagai media untuk menarik perhatian para siswa dalam mengikuti kegiatan penyuluhan.

Tabel di bawah ini merupakan skenario yang telah direncanakan sebelumnya.
Waktu
Kegiatan
Keterangan
14:00 - 14:15
Apel pembukaan Hisbul Wathan
Apel pembukaan HW yang wajib dilakukan untuk mengawali kegiatan .
14:15 – 14:30
Pre-test dan perkenalan di dalam kelas
Sebagai pembuka, penyuluh  memperkenalkan diri kepada para siswa SMK Muhammadiyah Kramat sambil membagikan kuesioner pre-test
14:30 – 15:00
Pemberian materi
Memberikan materi tentang penggunaan helm SNI menggunakan slide powerpoint
15:00 – 15:15
Tanya Jawab
Memberikan kesempatan kepada siswa-siswi untuk bertanya perihal materi yang diberikan
15:15 – 15:30
Istirahat

15:30 – 15:45
Selingan games
Memberikan games tebak gambar berupa rambu lalu lintas yang biasa ditemui di jalan sebagai materi tambahan bagi para siswa
15:45 – 15:50
Post-test dan penutupan materi
Melakukan pembagian kuesioner Post-testkemudian kegiatan penyampaian materi ditutup dengan membaca doa
15:50 – 16:00
Apel Penutup
Apel Penutup untuk mengakhiri kegiatan HW

Berdasarkan skenario yang telah direncanakan, penyuluhan (pemberian materi di dalam kelas) dilaksanakan mulai pukul 14.15 WIB, namun pengurus kegiatan Hizbul Wathan memiliki kebijakan lain sehingga pemberian materi baru dapat dilaksanakan pada pukul 15.05. Dengan adanya perubahan tersebut, tim penyuluh segera melakukan penyesuaian skenario kegiatan, sehingga jadilah skenarionya menjadi seperti tabel di bawah ini.
Waktu
Kegiatan
14:00 - 14:40
Apel pembukaan Hizbul Wathan dan kegiatan lapangan
14:40 – 15:05
Sholat Ashar
15:05 – 15:20
Persiapan, perkenalan dan pre-test
15:20 – 15:50
Pemberian materi
15:50 – 16:00
Tanya Jawab
16:00 – 16:20
Selingan games
16:20 – 16:30
Post-test dan penutupan materi
16:30 – 16:45
Apel Penutup

Berikut ini merupakan penjelasan mengenai pelaksanaan kegiatan yang telah dilakukan:

Apel Pembukaan

Untuk mengawali kegiatan, dilakukan apel pembukaan yang diikuti oleh seluruh kelas X sebagai siswa yang wajib mengikuti kegiatan Hizbul Wathan serta 2 orang Pembina dan 10 siswa kelas XI sebagai Dewan Ambalan yang membantu di dalam membimbing dan mengawasi peserta HW. Dalam apel tersebut, seorang pembina menjadi pengambil apel, dalam pengarahannya pembina memberi penjelasan mengenai kegiatan taruna yang akan dilaksanakan kepada peserta HW.
Berdasarkan rencana, apel pembukaan hanya dilakukan selama 15 menit, namun dari pembina menghendaki para siswa untuk melakukan kegiatan di lapangan terlebih dahulu sampai dengan pukul 14.40, kemudian dilanjutkan dengan sholat Ashar sampai dengan pukul 15.05. Setelah selesai sholat Ashar, pembina membagi para siswa yang hadir menjadi 3 kelompok, kemudian setiap kelompok diarahkan untuk memasuki kelas yang telah disiapkan untuk menerima materi penyuluhan. Tiga kelompok tersebut terdiri dari dua kelompok siswa dan satu kelompok siswi berdasarkan arahan dari pembina HW. Setiap kelompok di dalam kelas, diberi materi oleh 1 kelompok yang terdiri dari 5 orang taruna.

Persiapan, Perkenalan dan Pre-Test

Awal memasuki kelas dibutuhkan waktu untuk mempersiapkan peralatan dan media penyuluhan. Persiapan dilakukan oleh dua orang, sedangkan lainnya melakukan perkenalan dan menyampaikan maksud dan tujuan kegiatan yang ada di dalam kelas. Selain taruna, seluruh peserta di dalam ruangan juga dipersilakan untuk memperkenalkan diri mereka masing-masing.

Di sela-sela waktu perkenalan, dibagikan kuesioner pre-test dibagikan kepada beberapa siswa yang dijadikan sebagai responden secara acak. Saat membagikan kuesioner taruna juga menjelaskan bagaimana pengisian kuesioner tersebut. Siswa sangat antusias dan serius di dalam mengisi kuesioner yang diberikan. Skenario berjalan lancar selama pre-test dan perkenalan dari para taruna.


Pemberian Materi

Sesuai dengan tujuan dari kegiatan penyuluhan yang telah ditentukan, yaitu meningkatkan kesadaran para siswa tentang penggunaan helm SNI bagi pengendara sepeda motor. Pemberian materi menggunakan media slide powerpoint kemudian di pertengahan diberikan beberapa video.
 
Ruang 1

Ruang 2

Ruang 3

Beberapa materi yang disampaikan adalah dasar hukum penggunaan helm SNI, urgensi penggunaan helm, desain standar helm, dan yang terakhir adalah materi mengenai risiko bahaya tidak menggunakan helm. Berikut ini adalah gambar slide presentasi yang digunakan dalam pemberian materi penggunaan helm SNI.






Dalam pemberian materi mengenai risiko tidak menggunakan helm, dua video ditayangkan kepada para siswa. Video pertama adalah tentang korban kecelakaan yang tidak mengiakan helm, sedangkan video kedua adalah tentang korban kecelakaan yang menggunakan helm non-SNI.


Tanya Jawab

Sesi tanya jawab ditujukan untuk memberikan waktu kepada para siswa untuk menanyakan hal-hal terkait dengan penggunaan helm. Dalam kegiatan ini, terlihat ekspresi keingintahuan para siswa, namun enggan untuk mengungkapkan di depan teman-teman mereka. Dari tiga kelas yang ada, hanya satu orang siswa yang mengajukan pertanyaan. Siswa tersebut bertanya tentang alat keselamatan apa saja yang ada pada kendaraan selain helm. Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, moderator memberikan kesempatan terlebih dahulu kepada para siswa yang hadir untuk menjawab pertanyaan dari teman mereka sendiri. Hal ini dilakukan untuk menciptakan suasana yang interaktif, namun tidak ada respon dari siswa untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Partisipasi yang minim dari para siswa dalam mengajukan pertanyaan merupakan hal yang harus diketahui penyebabnya, apakah karena mereka sudah paham dengan materi yang diberikan, atau justru mereka tidak paham sama sekali. Hal tersebut akan dapat dijawab setelah melakukan evaluasi.

Selingan Games

Games atau permainan merupakan salah satu cara agar siswa tidak merasa jenuh saat mengikuti kegiatan penyuluhan sekaligus sebagai sarana untuk mencairkan suasana (ice breaking). Games  yang taruna berikan merupakan games yang dapat menghibur sekaligus melihat pemahaman para siswa mengenai materi yang telah disampaikan.

Games yang pertama adalah games pakai helm. Permainan ini merupakan salah satu sarana untuk memberikan penghargaan kepada para siswa yang telah menggunakan helm SNI pada saat berangkat ke sekolah. Pertama, para siswa yang menggunakan helm diminta untuk tunjuk tangan untuk kemudian dipilih untuk mengikuti games. Pada kegiatan tersebut ditemukan hal yang sangat menarik, dari tiap kelas hanya 4 sampai 5 orang saja yang menggunakan helm SNI. Dengan adanya temuan tersebut, akhirnya para siswa yang menggunakan helm diminta untuk mengambil helm masing-masing ke dalam kelas. Selanjutnya, para siswa tersebut diminta untuk melakukan demonstrasi penggunaan helm SNI yang baik dan benar. Setelah demonstrasi penggunaan helm selesai, para siswa tersebut diberikan hadiah sebagai bentuk penghargaan atas tindak disiplin yang mereka lakukan. Di sela-sela pemberian hadiah juga diberikan arahan kepada para siswa yang belum menggunakan helm untuk mengikuti tindakan yang dilakukan oleh teman-teman mereka yang telah menggunakan helm.
Games kedua yang diberikan kepada para siswa adalah Games tebak gambar rambu. Permainan ini selain sebagai sarana ice breaking juga sebagai sarana pemberian materi tambahan kepada para siswa tentang rambu-rambu lalu lintas. Pada permainan ini, ditunjukkan kepada  para siswa dua gambar rambu yang memiliki karakteristik yang sama, kemudian diminta salah satu dari siswa yang hadir untuk menjelaskan arti dan perbedaan kedua rambu tersebut.





Materi-materi yang diberikan pada permainan tebak gambar dirasa tepat diberikan, karena dari 4 pasang rambu yang ada, hanya satu pasang rambu yang dapat dijawab dengan benar. Oleh karena itu, pada permainan ini sekaligus dijelaskan mengenai nama, arti dan perbedaan rambu-rambu yang ditampilkan peda para siswa.
Pada akhirnya, hadiah yang telah disiapkan masih tersisa karena dari empat pertanyaan , hanya satu yang bisa terjawab. Untuk mengatasi hal tersebut, diberikan permainan tambahan dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada para siswa. Siswa yang mampu menjawab dengan benar akan diberi hadiah. Pertanyaan yang diberikan merupakan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat mengulas kembali materi yang telah disampaikan sebelumnya. Jadi, langkah tersebut juga berguna untuk mengetahui tingkat keberhasilan penyampaian materi.

Post-test dan Penutupan Materi

Pada akhir kegiatan, kuesioner yang sama diberikan kembali kepada siswa sebagai sarana post-test. Kemudian, dilakukan penutupan kegiatan di dalam kelas dan mengucapkan terima kasih atas segala partisipasi dan kerja sama dari seluruh siswa.

Apel Penutup

Apel penutup dilakukan di lapangan yang diikuti oleh seluruh peserta HW. Di dalam apel penutup tersebut taruna sekaligus ijin berpamitan dan diakhiri dengan foto bersama.

source http://kuliah-ktj.blogspot.co.id/2017/01/penyuluhan-penggunaan-helm-sni-di-smk.html

Evaluasi Kegiatan Penyuluhan SMK Muhammadiyah 1 Kramat

Evaluasi Kegiatan Penyuluhan

Pada kiriman sebelumnya telah dijelaskan dengan cukup komprehensif mengenai pelaksanaan kegiatan penyuluhan penggunaan helm SNI bagi siswa-siswi SMK, yaitu di SMK Muhammadiyah Kramat, Kabupaten Tegal. Untuk kiriman kali ini, akan dibahas mengenai evaluasi dari kegiatan penyuluhan yang telah dilaksanakan tersebut. Dengan melakukan evaluasi, akan dapat diketahui hasil dari penyuluhan yang telah dilakukan, apakah terdapat perubahan dari kondisi sebelumnya atau tidak.
Pembahasan tentang evaluasi kegiatan penyuluhan ini akan dibagi ke dalam 4 (empat) bagian, antara lain: metode evaluasi, indikator, alat ukur, dan hasil pengukuran.

Metode

Evaluasi kegiatan merupakan bagian yang harus ada dalam pelaksanaan satu kegiatan. Dengan melakukan evaluasi, tingkat keberhasilan kegiatan dapat diketahui. Tingkat keberhasilan dapat diketahui dengan membandingkan antara tujuan kegiatan dengan hasil yang didapatkan setelah kegiatan dilaksanakan.
Tujuan dari kegiatan penyuluhan di SMK Muhammadiyah Kramat adalah meningkatkan kesadaran para siswa SMK Muhammadiyah Kramat tentang penggunaan helm SNI. Kata yang digunakan adalah meningkatkan, dengan demikian harus diketahui tingkat kesadaran para siswa sebelum dan sesudah dilaksanakan kegiatan penyuluhan. Oleh karena itu, metode yang digunakan adalah metode ­before and after analysis.
Untuk mendapatkan data yang digunakan untuk mengetahui tingkat kesadaran para siswa, cara yang dilakukan adalah dengan memberikan pre-test sebelum kegiatan dilakukan dan post-test setelah kegiatan dilaksanakan.

Indikator

Tujuan dari kegiatan penyuluhan keselamatan lalu lintas di SMK Muhammadiyah Kramat adalah untuk meningkatkan kesadaran siswa SMK Muhammadiyah Kramat tentang penggunaan helm. Tingkat kesadaran para siswa dapat diukur dengan empat indikator yang biasa dijadikan sebagai tolak ukur kesadaran hukum, antara lain: pengetahuan, pemahaman, sikap, dan pola perilaku. Menggunakan helm SNI merupakan peraturan hukum yang tertuang dalam pasal 106 ayat (8) UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas Angkutan Jalan yang berbunyi:

“Setiap orang yang mengemudikan Sepeda Motor dan Penumpang Sepeda Motor wajib mengenakan helm yang memenuhi standar nasional Indonesia”

Dengan demikian, menggunakan empat indikator kesadaran hukum tersebut untuk mengukur tingkat kesadaran penggunaan helm SNI merupakan hal yang relevan untuk dilakukan.

a)      Pengetahuan
Pengetahuan hukum adalah pengetahuan seseorang mengenai beberapa perilaku tertentu yang diatur oleh hukum. Perilaku tertentu yang dimaksud dalam evaluasi ini adalah penggunaan helm SNI  pada saat berkendara dengan sepeda motor. Jadi, indikator penilaian pengetahuan dalam evaluasi ini adalah pengetahuan para siswa tentang dasar hukum penggunaan helm SNI pada saat berkendara dengan sepeda motor.

b)      Pemahaman
Pemahaman hukum diartikan sebagai sejumlah informasi yang dimiliki seseorang mengenai isi peraturan dari satu hukum tertentu. Dengan kata lain, pemahaman hukum adalah satu pengertian terhadap isi dan tujuan satu peraturan dalam hukum tertentu serta manfaatnya bagi pihak-pihak yang kehidupannya diatur oleh hukum tersebut. Terkait dengan penggunaan helm SNI, maka indikator penilaian pemahaman penggunaan helm adalah pemahaman para siswa terhadap isi dan tujuan diwajibkannya menggunakan helm SNI pada saat berkendara dengan sepeda motor.

c)       Sikap
Sikap hukum diartikan sebagai satu kecenderungan untuk menerima hukum karena adanya penghargaan terhadap hukum sebagai sesuatu yang bermanfaat atau menguntungkan jika hukum itu ditaati. Terkait dengan penggunaan helm SNI, maka indikator penilaian sikap terhadap peraturan penggunaan helm SNI adalah kecenderungan atau persepsi para siswa untuk menggunakan helm SNI pada kondisi-kondisi tertentu.

d)      Pola Perilaku
Pola perilaku hukum merupakan hal yang utama dalam kesadaran hukum, karena di sini dapat dilihat apakah satu peraturan berlaku atau tidak dalam masyarakat. Berlaku atau tidaknya hukum tersebut dilihat dari dilaksanakan atau tidak peraturan yang ada, khususnya dalam hal penggunaan helm SNI. Dengan demikian, indikator pola perilaku para siswa adalah tindakan pelanggaran terhadap peraturan hukum yang dilakukan oleh para siswa.

Alat Ukur

Alat evaluasi merupakan instrumen yang digunakan untuk mengetahui tingkat keberhasilan dari penyuluhan yang dilakukan. Dengan alat evaluasi akan dapat diketahui seberapa besar pengaruh dari kegiatan penyuluhan terhadap tingkat pemahaman dan tingkat kesadaran para siswa terhadap peraturan lalu lintas yang ada, khususnya penggunaan helm SNI.
Dalam menentukan alat evaluasi yang akan digunakan, hal yang harus diperhatikan adalah indikator-indikator penilaian yang akan diukur. Telah dijelaskan sebelumnya bahwa dalam evaluasi ini, digunakan empat indikator kesadaran, yaitu pengetahuan, pemahaman, sikap, dan pola perilaku.
Dengan melihat karakteristik dari masing-masing indikator, maka alat evaluasi yang dapat digunakan untuk mengetahui tingkat keberhasilan kegiatan penyuluhan penggunaan helm SNI pada siswa SMK Muhammadiyah Kramat yaitu kuesioner dan survei pelanggaran penggunaan helm.
  1. Kuesioner
Kuesioner digunakan untuk mengukur indikator pengetahuan, pemahaman, dan sikap para siswa terhadap peraturan menggunakan helm saat berkendara. Indikator pengetahuan dan pemahaman diukur dengan menggunakan pernyataan-pernyataan yang bersifat kognitif (benar/salah). Indikator sikap diukur dengan pernyataan-pernyataan yang bersifat afektif (setuju/tidak setuju).
Di dalam kuesioner ada dua jenis pernyataan, yaitu pernyataan yang bersifat favourable (pernyataan positif) dan unfavourable (pernyataan negatif). Hal tersebut dimaksudkan untuk menghindari responden yang cenderung menjawab tidak pada kondisi sebenarnya, cenderung menjawab benar / setuju namun pada kenyataannya tidak demikian.
Skala pengukuran yang digunakan untuk kuesioner yang akan digunakan adalah Skala Guttman, yang mana setiap pernyataan hanya memiliki dua pilihan jawaban. Dari kuesioner yang diisi oleh responden, akan didapatkan jumlah skor total pada setiap indikator. Jumlah skor tersebut didapatkan dari scoring sebagai berikut:

Tabel 1. Skoring jawaban responden
Jenis Jawaban
Skor
Favourable
Unfavourable
Benar
1
0
Salah
0
1
Setuju
1
0
Tidak
0
1

Tabel 2 menunjukkan blue print dari kuesioner yang akan diberikan kepada responden dalam rangka mengukur tingkat kesadaran para siswa SMK Muhammadiyah Kramat dari aspek pengetahuan, pemahaman, dan sikap terhadap peraturan penggunaan helm SNI.

Tabel 2. Blueprint pengukuran pengetahuan, pemahaman dan sikap
No
Jenis Pernyataan
Pernyataan
Pengukuran Pengetahuan
1
F
Mengenakan helm wajib bagi pengemudi sepeda motor
2
UF
Mengenakan helm tidak wajib bagi penumpang sepeda motor
3
UF
Tidak harus mengenakan helm SNI
4
F
Helm berstandar dinilai dari bentuknya bukan logo terstandarnya


Pengukuran Pemahaman
5
UF
Helm berfungsi untuk melindungi diri dari tilang polisi
6
F
Mengenakan helm melindungi kepala dari benturan saat kecelakaan
7
UF
Mengenakan helm tidak berpengaruh terhadap keselamatan saat terjadi kecelakaan
8
UF
Pemakaian helm dapat digantikan dengan alat lain yang fungsinya sama
9
UF
Helm cukup dikenakan tanpa perlu dikunci (di-klik)


Pernyataan


Pengukuran Sikap
10
UF
Mengenakan helm tidak perlu bagi anak-anak
11
UF
Tidak perlu mengenakan helm saat bepergian jarak dekat
12
UF
Tidak perlu mengenakan helm jika tidak ada polisi
13
F
Lebih baik membeli helm daripada ditilang polisi
14
UF
Helm dengan model keren tanpa SNI lebih baik daripada helm biasa saja tapi SNI
15
UF
Tidak perlu mengenakan helm jika tidak punya


  1. Survei Pelanggaran
Survei pelanggaran penggunaan helm SNI digunakan untuk mengukur secara langsung tingkat kesadaran para siswa dari aspek pola perilaku (konatif) para siswa terhadap peraturan menggunakan helm pada saat mengendarai sepeda motor. Sasaran kegiatan pengamatan ini adalah pelanggaran lalu lintas yang dilakukan oleh para siswa SMK Muhammadiyah Kramat. Hasil pengamatan ini adalah data kuantitatif yang menunjukkan jumlah dan persentase pelanggaran lalu lintas yang dilakukan oleh para siswa di lokasi pengamatan.
Untuk mencapai hasil yang relevan, pengamatan dapat dilakukan pada jam masuk sekolah atau jam pulang sekolah dan pada saat jam kegiatan belajar mengajar. Pengamatan pada jam masuk/keluar sekolah dapat dilakukan di pintu masuk sekolah dan di depan area sekolah. Sedangkan pengamatan pada jam kegiatan belajar mengajar dapat dilakukan di tempat parkir kendaraan para siswa untuk mengamati secara lebih rinci pelanggaran terkait dengan peraturan teknis kendaraan yang digunakan para siswa.

Hasil Pengukuran

  1. Pengetahuan, Pemahaman, dan Sikap
Setelah dilakukan pengukuran menggunakan kuesioner terhadap 50 responden dari siswa SMK Muhammadiyah Kramat peserta ekstrakulikuler Hizbul Wathan didapatkan skor hasil pengukuran sebagaimana dijelaskan pada tabel 5.3. Hasil pengukuran menunjukkan adanya peningkatan total skor antara sebelum penyuluhan (646) dengan setelah penyuluhan (675) sebesar 29 poin atau 0,04 %. Dari ketiga aspek yang diukur, baik aspek pengetahuan, pemahaman, maupun sikap, semuanya mengalami peningkatan. Tingkat pengetahuan para siswa naik 7 poin (0,04%), tingkat pemahaman para siswa naik 8 poin (0,06%), dan nilai sikap para siswa naik 15 poin (0,06%).

Tabel 3. Skor hasil pengukuran kuesioner
No
Indikator
Skor
Prosentase Peningkatan
Before
After
1
Pengetahuan
160
167
0,04 %
2
Pemahaman
217
225
0,04 %
3
Sikap
269
284
0,06 %
TOTAL SKOR
646
675
0,04 %

Dari ketiga aspek yang diukur, skor sikap para siswa SMK Muhammadiyah Kramat mengalami kenaikan yang paling tinggi dibandingkan aspek yang lain. Hal ini menjadi indikasi bahwa pengetahuan dan pemahaman para siswa terhadap peraturan penggunaan helm SNI sebelum penyuluhan sudah tinggi. Para siswa sudah mengetahui dan memahami tentang peraturan dan untuk apa peraturan tersebut dibuat. Tetapi, sikap positif para siswa terhadap peraturan tersebut belum menunjukkan nilai yang setingkat dengan pengetahuan dan pemahaman para siswa. Terbukti setelah dilakukan penyuluhan, sikap para siswa terhadap peraturan penggunaan helm SNI naik sebesar 15 poin (0,06%).

  1. Pola Perilaku
Pola perilaku para siswa terhadap peraturan penggunaan helm SNI didapatkan dengan melakukan survei di pintu gerbang dan tempat parkir SMK Muhammadiyah Kramat. Hasil survei tersebut ditunjukkan grafik pada gambar 1.
Gambar 1. Hasil survei pelanggaran lalu lintas sebelum penyuluhan

Berdasarkan hasil survei, diketahui ada 5 (lima) jenis pelanggaran yang dilakukan selama survei dilakukan. Pelanggaran penggunaan helm tercatat ada 114 siswa yang melanggar dari 274 pelanggaran yang dilakukan siswa yang menggunakan sepeda motor, terdiri dari 106 pelanggaran tidak menggunakan helm SNI dan 8 pelanggaran penggunaan helm non-SNI.
Setelah penyuluhan, survei kembali dilakukan. Survei pasca penyuluhan tidak seperti survei pra penyuluhan. Apabila survei pra-penyuluhan dilakukan untuk mengetahui jenis pelanggaran apa saja yang dilakukan, maka survei pasca-penyuluhan dilakukan hanya difokuskan pada pelanggaran yang menjadi materi penyuluhan keselamatan, yaitu tentang penggunaan helm SNI.
Berdasarkan hasil survei pasca-penyuluhan pada penggunaan helm di SMK Muhamadiyah Kramat, didapatkan adanya penurunan jumlah pelanggaran sebesar 20%. Dari yang sebelumnya ada 106 siswa yang tidak menggunakan helm dan 8 siswa yang menggunakan helm non-SNI, setelah dilakukan penyuluhan, didapatkan ada 86 siswa yang melakukan pelanggaran penggunaan helm, semuanya tidak menggunakan helm dan tidak didapati siswa yang menggunakan helm non-SNI seperti sebelum dilakukan penyuluhan.

Kesimpulan

Dengan dilaksanakannya rangkaian kegiatan penyuluhan yang dimulai dari proses identifikasi massa dan diakhiri dengan kegiatan penyuluhan sampai dengan evaluasi kegiatan, kesimpulan yang dapat diambil antara lain:
a)   Berdasarkan hasil identifikasi, pelanggaran lalu lintas yang paling banyak dilakukan oleh siswa/siswi SMK Muhammadiyah Kramat adalah tidak menggunakan helm SNI.
b)  Pelanggaran tidak menggunakan helm bukan karena para siswa tidak mengetahui peraturan, melainkan karena tingkat kesadaran yang rendah, sehingga penyuluhan dilakukan dengan bertujuan meningkatkan kesadaran para siswa/siswi melalui kegiatan Hizbul Wathan.
c)  Model penyuluhan dengan metode pendekatan kelompok terbukti efektif digunakan untuk menyampaikan materi kepada para siswa/siswi dengan karakteristik siswa SMK yang cenderung sulit untuk diatur.
d)  Secara umum, kegiatan penyuluhan telah meningkatkan kesadaran para siswa/siswi SMK Muhammadiyah dalam hal kewajiban penggunaan helm SNI bagi pengendara sepeda motor.


Semoga bermanfaat
source http://kuliah-ktj.blogspot.co.id/2017/01/evaluasi-kegiatan-penyuluhan.html
Simple markers

Evaluasi Kampanye Keselamatan Jalan Menurut Ross Silcock Ltd


SABTU, 04 FEBRUARI 2017

Pemberitaan/periklanan tentang keselamatan jalan dapat digunakan untuk mencapai tujuan dan sasaran. Pada umumnya, tujuan dari setiap pemberitaan/periklanan adalah untuk mengubah perilaku pengguna jalan, sikap atau pengetahuan agar meningkatkan keselamatan jalan. Berikut adalah hal-hal yang bisa didapatkan dengan kampanye melalui periklanan:


  • Meningkatkan kesadaran dari sebuah permasalahan atau perilaku tertentu;
  • Meningkatkan level informasi tentang sebuah topik atau isu tertentu;
  • Membantu membangun kepercayaan, khususnya bagi mereka yang tidak mendapatkan perhatian lebih;
  • Membuat topik lebih menonjol dan membuat massa lebih peka dalam berkomunikasi;
  • Mendorong pengaruh interpersonal melalui percakapan dengan yang lain (misal: polisi, guru, atau orang tua);
  • Membangkitkan pencarian informasi oleh individu; dan
  • Menguatkan kembali kepercayaan dan perilaku yang sudah ada.


Salah satu permasalahan yang akan dihadapi adalah bahwa orang, kebanyakan, cenderung menolak untuk berubah, khususnya ketika tidak ada orang yang secara nyata mendekati mereka. Seorang pengemudi yang mengoperasikan kendaraan setelah minum alkohol yang pada banyak kasus tidak mengalami insiden, tidak menerima alasan mengapa ia tidak boleh minum dan mengemudi seperti yang disampaikan pada poster ataupun televisi. Kesulitan tambahan yang harus diatasi adalah bahwa tidak ada kesempatan untuk melakukan interaksi secara face-to-face.

Dalam rangka menentukan metode evaluasi yang paling sesuai, penting untuk mengetahui lebih dulu sasaran kampanye. Dalam banyak kasus sasarannya adalah untuk mengurangi kecelakaan atau penyebabnya. Penting untuk menggunakan cara yang sesuai dalam evaluasi kampanye publik. Apabila pencegahan/pengurangan kecelakaan digunakan sebagai ukuran, maka dalam interval waktu tertentu harus cukup kuat untuk mendapatkan efeknya. Menggunakan data kecelakaan atau korban mungkin sesuai, khususnya untuk kampanye yang dilakukan dalam jangka panjang (5 atau 10 tahun), namun untuk jangka pendek, akan tidak sesuai apabila menggunakan data kecelakaan saja. Penggunaan tingkat kecelakaan sebagai ukuran dapat menjadi sebuah kejanggalan dengan banyak pertimbangan seperti kecelakaan yang tidak dilaporkan, waktu kejadian, dan pengaruh dari faktor lainnya. Berikut ini adalah beberapa indikator yang dapat digunakan selain data kecelakaan:

  •           Kesukaan publik terhadap sebuah pesan;
  •           Opini publik terhadap efektivitas pesan;
  •           Opini ahli terhadap efektivitas pesan;
  •           Jumlah dan jenis pengguna jalan yang diraih;
  •           Pengulangan pesan yang digunakan;
  •           Perubahan pengetahuan lalu lintas;
  •           Perubahan sikap;
  •           Perubahan perilaku individu;
  •           Perubahan perilaku yang diobservasi;
  •           Perubahan tingkat pelanggaran; dan
  •           perubahan tingkat kecelakaan.

Apabila dari item-item tersebut cenderung berhubungan dengan keseringan kecelakaan, item-item tersebut dapat digunakan sebagai indikator.  Harus ada ketelitian dalam memperkirakan bahwa apabila ada perbaikan dari salah satu variabel tersebut, akan secara otomatis menjadi perbaikan tingkat kecelakaan. Ada juga kemungkinan bahwa kompensasi risiko akan terjadi. Hal ini terjadi ketika perbaikan satu perilaku mengarahkan ke pengambilan risiko di area yang lain. Sebagai contoh, hal tersebut telah terlihat pada beberapa kasus yang menunjukkan bahwa peningkatan penggunaan sabuk keselamatan mengarahkan ke luka yang lebih ringan bagi penumpang, tetapi terjadi lebih banyak kecelakaan yang melibatkan pengguna jalan yang rentan (vulnerable road users).

Apabila hanya menggunakan data kecelakaan sebagai bahan evaluasi, hanya hasil akhir yang diketahui. Akan lebih informatif jika mengetahui bagaimana jalan menuju hasil akhir tersebut. Dengan kata lain, penggunaan variabel sikap dan pengetahuan dapat membantu untuk mengetahui mengapa program tersebut berhasil dan mengapa program tersebut tidak efektif (gagal). Informasi tersebut dapat menjadi masukan dalam desain kampanye di masa yang akan datang sehingga ada proses perbaikan yang dinamis.

Menggunakan media periklanan saja tidak akan menghasilkan perubahan yang diharapkan. Harus dilihat pula sebuah kampanye yang lebih luas, melibatkan penegakan hukum, peraturan, teknik dan strategi yang lain. Perubahan perilaku yang dituju harus realistis dan tidak terlalu luas. Bagaimanapun, periklanan adalah sebuah hal pokok, tetapi berjangka panjang, bagian dari setiap strategi untuk mengurangi jumlah orang yang meninggal dan terluka di jalan.


Sumber: THE DESIGN AND EVALUATION OF ROAD SAFETY PUBLICITY CAMPAIGNS (Kim Smith, Ross Silcock Ltd)

Sosialisasi Keselamatan Berlalu-lintas di SMK 1 Muhammadiyah Kramat, "Pentingnya Penggunaan Helm untuk Meningkatkan Keselamatan"


Kramat, Kabupaten Tegal. Politeknik Keselamatan Transportasi Jalan (PKTJ) Kota Tegal melalui progtam studi DIV Manajemen Keselamatan Transportasi jalan beberapa waktu lalu menggelar sosialiasi pentingnya penggunaan helm untuk meningkatkan keselamatan di SMK Muhammadiyah Kramat.
Di SMK itu, sosialisasi di ikuti sekitar 100 siswa. Peserta mendapat penjelasan seputar manfaat penggunaan helm. Para siswa telihat antusias mengikuti jalannya acara. Selain mendapat teori yang dibawakan para taruna PKTJ, mereka juga disuguhi pemutaran video tentang berkendara secara aman.
Antusiasme para siswa terlihat antusias ketika dilakukan pemberian materi cara memakai helm yang benar. Selain itu juga diberikan hadiah untuk siswa yang antusias menjawab pertanyaan yang dibawakan oleh narasumber, yaitu taruna PKTJ
Sosialisasi ini di latar belakangi banyaknya pengendara motor, termasuk anak sekolah yang tidak menggunakan helm saat berkendara dengan alasan faktor gaya, macho maupyn berani. Selain itu, meski sudah memakai helm, tetapi belum lulus SNI. "Kegiatan ini bertujuan memberikan arti pentingnya memakai helm SNi serta manfaat dan fungsinya bagi pengendara," kata salah satu taruna PKTJ, Rizal Ghifary.
Rizal juga menuturtkan bahwa berdasarkan UU N0 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan bahwa setiap pengendara sepeda motor wajib menggunakan helm SNI. Tidak hanya, pengemudi, pembonceng juga wajib menggunakan helm tersebut. Penggunaan helm yang SNI dan juga cara memakai helm yang benar akan meningkatkan keselamatan pengguna jalan apabila terjadi kecelakaan.
"Bagi adik-adik siswa SMK yang tidak mematuhinya dikenakan sanksi berupa denda Rp 250 ribu atau kurungan satu bulan penjara oleh pihak Kepolisian" kata dia.